Jejak Kaki Perjuangan Untuk Meraih Masa Depan Yang Lebih Baik

Konsisten


Pagi 07.00

Ya Allah jadikan aku manusia penolong bagi yang lain. Yang memberikan bantuan dan perlindungan kepada yang membutuhkan. Menyisihkan tiap receh yang Kau berikan padaku hari ini. Jadikan aku manusia yang selalu bersyukur dengan cara membantu sesama, tanpa memandang status dan jabatannya.

Siang 12.00

Terima kasih atas segala rezeki yang Kau limpahkan hari. Semoga rezeki itu membawa berkah bagiku dan orang lain disekelilingku. Jadikan rezeki itu sebagai jembatan yang menghubungkan aku dan hamba-Mu yang lain. Jadika pula rezeki itu sebagai pengikat antara aku dan orang-orang yang tak beruntung.

Sore 16.00

“Tuan, berilah hamba sedikit uang. Sampai sore ini hamba belum makan.”

“Pergi… Pergi! Pengemis. Enak saja kamu minta-minta. Ini rezeki saya. Kalau mau makan kerja, cari uang yang banyak.”

Lembaran Kehidupan


“Hidup ini seperti buku. Sampul didepan adalah tanggal lahir, dan sampul dibelakang adalah tanggal kepulangan. Tiap lembarnyap adalh hari-hari dalam hidup kita. Ada buku yang tebal. Ada pula buku yang tipis. Hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang bersih, baru dan tiada cacat. Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemaren, Tuhan selalu menyediakan hari baru untuk kita. Kesempatan baru untuk bisa melakukan sesuatu yang baru pula. Memperbaiki kesalahandan melanjutkan cerita yang sudah ditetapkan”.

Ketika seorang mengungkapkan kata-kata itu, aku tak bisa berkata-kata. Semuanya seperti menampar kesadaranku. Betapa tidak, selama ini aku memang acuh tak acuh dengan kehidupan yang sedang ku jalani. Hidup selalu diisi dengan tulisan bahkan lembaran yang hitam. Baik dilakukan secara sadar atau tidak semua keburukan itu terjadi setiap hari. Kebohongan, penipuan, sumpah serapah, penghinaan, atau pikiran-pikiran kotor lainnya selalu ada dalam tubh ini.

Sebagai manusia yang berpikir dan berakal, aku tak pernah menggunakan kedua hal itu untuk kebaikan hidup. Jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri tak pernah terpikirkan. Aku memang sedang dihanyutkan oleh pikiran-pikiran kotor itu, sehingga lembaran kehidupan penuh dengan kegelapan. Terkadang, hal itu memang memberikan keuntungan, tapi secara keseluruhan malah merugikan diri sendiri. Keuntungan yang diraih, entah itu dalam bentuk, uang, benda, dan lain sebagainya malah tidak membuat saya puas. Semua terasa kurang.

Walapun tidak dengan nada bersemangat dan berapi-api, tapi ucapan teman itu terasa menusuk ke dalam hati. Ada rasa tersindir, namun ada pula rasa tidak mau menerima. Begitulah sikapku sebagai manusia angkuh, sombong, dan tamak. Semua yang dikatakan orang tentang kebaikan lebih banyak diingkari walapun tidak dilakukan secara langsung. Ada saja alasan agar hal itu tidak benar.

Benarkah Tuhan selalu menghadirkan lembaran putih setiap hari. Benarkah Tuhan selalu memberikan kepada kita untuk berbuat kebaikan, atau apakah Tuhan selalu memberikan kesempatan kita untuk berubah?

Kalau kita perhatikan selama ini, bagitu banyak orang yang melakukan apa yang aku lakukan. Keburukan dalam bentuk penipuan, kebohongan, keserakahan, kesombongan, amoral, dan sebagainya selalu terjadi setiap saat. Setiap hari banyak orang menulis lembaran hidupnya dengan tulisan hitam. Sehingga lembaran itu menjadi buram. Anehnya, mereka sepertinya senang dengan hidup seperti itu. Demikian pula denganku. Lembaran hitam tidak selalu membawa kesengsaraan. Walaupun terkesan semu, kebahagian yang didapat membawa kesenangan. Umumnya hal itu yang dicari oleh manusia. Semu atau tidak, tak penting. Yang penting bahagia.

Kembali ke hal yang diungkapkan oleh teman saya tersebut, ada hal yang harus disadari. Buku kehidupan kita ditentukan oleh kita. Tuhan hanya akan menuliskan sesuatu yang pasti yaitu halaman pertama, dan halaman terakhir. Untuk halaman-halaman isi, terserah kepada kita untuk menuliskannya. Mau hitam atau putih terserah kita. Untuk membuatnya buram atau bening juga terserah kita.

Jadi, sudahkah anda menuliskan lembaran kehidupan anda hari ini?

Manusia Generator


Generator adalah sebuah alat untuk menghasilkan listrik. Ia mengubah energy listri menjadi cahaya. Dengan cahaya tersebut, gelapnya malam menjadi terang benderang. Untuk dapat mengubah energy listri menjadi cahaya tersebut, generator membutuhkan mesin. Keduanya saling memerlukan. Salah satunya tidak ada, maka yang lain tidak dapat berfungsi dengan baik.

Cahaya diperlukan oleh manusia. Entah itu cahaya yang bersumber dari matahari, bulan, bintang, atau generator sekalipun. Matahari hanya bersinar pada siang hari. Bulan dan bintang menerangi malam, tapi cahayanya tak cukup kuat untuk membantu manusia untuk beraktivitas di malam hari. Untuk membantu manusia, maka diciptakanlah generator. Lewat kabel yang dipasang, ia mengalirkan aliran listrik ke mana saja, dan aliran tersebut pada ujungnya menghasilkan cahaya. Tidak hanya itu, aliran listrik yang dihasilkan menghidupkan televisi, radio, kulkas, mesin cuci, dan berbagai peralatan elektronik lainnya.

Pelajaran yang dapat dipetik dari sebuah generator adalah ia sederhana, tapi yang dihasilkannya luar biasa. Sesungguhnyalah manusia harus belajar dari sebuah generator. Menjadi pusat kekuatan energy, menyalurkannya, serta menghasilkan cahaya untuk sebuah kehidupan di bumi ini. menjadi manusia generator adalah menjadi manusia yang mampu memberikan cahaya atau pencerahan kepada manusia lainnya. Lewat, perkataan, tulisan, perbuatan atau apapun sarana yang digunakan, manusia generator memberikan manfaat yang luar biasa bagi manusia.

Tenaga yang menggerakkan manusia generator adalah Allah SWT. Segala perbuatan manusia generator diawali dari niat yang tulus dan ikhlas. Demikian pula dengan hasil yang dikeluarkan, tidak dituntut balas jasa. Cahaya atau pencerahan yang dihasilkan dari perbuatannya tidak menuntut balasan. Semua diikhlaskan demi kehidupan umat manusia yang terang benderang.

Setiap aliran listrik yang mengalir dari tubuhnya dalam bentuk ucapan, perbuatan dan lain sebagainya hanya diberikan demi pencerahan. Dan pencerahan itu diharapkan menghasilkan kesejahteraan, keamanan, keadilan, dan kesenangan hidup manusia. Kalaupun ada masalah bukan ia yang menjadi penyebabnya, tapi ada aliran yang sengaja dikorsletkan.

Sesungguhnya. Hilangnya cahaya, tidak adanya pencerahan bukan disebabkan oleh manusia generator, tapi disebabkan oleh manusia lain yang dengan sengaja melakukan sabotase dengan menghubungkan kedua kutub kabel agar terjadi arus pendek. Semua itu tentu membawa implikasi yang tidak kecil bagi pengguna atau manusia lainnya. Perilaku menyimpang bukan disebabkan tidak adanya cahaya atau pencerahan tapi karena ulah manusia yang dengan sengaja menghilangkannya.

Artinya, kehidupan yang kita jalani sekarang ini dipengaruhi oleh ketidakjujuran, pengkhianatan, pengingkaran, perlawanan yang tidak benar, dan lain sebagainya. Semua itu menjadi penyebab hancurnya tatanan social, peneggakkan hukum yang tidak adil, kemerosotan moral, kesenjangan ekonomi, dan sebagainya. Itu semua terjadi karena ada diantara kita yang melakukan sabotase sehingga timbul korsleting ditengah masyarakat. Akibatnya, cahaya dan pencerahan yang diharapkan selalu ada menjadi hilang. Kerugianlah yang kita rasakan. Hidup menjadi gelap. Langkah tak tentu arah, bahkan banyak yang kehilangan arah.

Kita harus menyadari bahwa kita hidup didunia ini tidak semata untuk diri kita sendiri. Kita hidup juga untuk orang lain. Selain mencerahkan diri kita, kita juga berkewajiban untuk mencerahkan orang lain. Dengan demikian, kehidupan yang kita jalani ini menjadi lebih bermakna. Bermakna karena mencerahkan diri kita dan orang lain.

Bila kita semua sadar bahwa kehidupan kita juga merupakan kehidupan orang lain. Pencerahan diri kita juga merupakan pencerahan bagi orang lain. Bila kita semua sadar dan au melakukan pencerahan, maka dunia ini menjadi damai dan indah untuk didiami. Wallahu ‘alam.

Aku Pembangkit


Berapa banyak orang yang jatuh setiap hari? Berapa banyak yang stress? Berapa banyak yang hancur? Bahkan, berapa banyak yang bunuh diri? Mereka itu adalah manusia-manusia yang kalah oleh jaman. Mereka tidak siap dengan segala hambatan, tantangan, rintangan, dan halangan. Dan krena tidak tidak siap itu, mereka terjatuh. Ada yang jatuhnya hanya terpeleset saja. Ada pula yang basah kuyup. Bahkan banyak pula yang berakhir dengan kematian.

Tragis memang. Tapi itulah kenyataannya. Setiap hari kita selalu bertemu dengan berbagai masalah. Banyak orang yang tak mampu mengatasinya. Dan banyak pula yang sukses. Bagi yang kalah, mereka mencari beribu alas an untuk tidak mengakui kekalahan mereka. Demikian pula dengan yang sukses, mereka membusungkan dada untuk memamerkan keberhasilan mereka. Dan tak jarang, mereka ini terkesan sombong.

Kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Ada orang lain disamping kita. Diantara mereka itu, selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena hidup adalah perjuangan, maka kegagalan dan keberhasilan merupakan sesuatu yang wajar. Harus kta sadari bahwa tidak selalu hidup kita penuh kegagalan. Demikian pula dengan keberhasilan atau kesuksesan. Semuanya pergilirkan oleh Allah SWT.

Aku dilahirkan ke dunia ini sama dengan manusia yang lainnya. Segara fisik lengkap, dan secara mental sehat. Namun demikian, kegagalan dan keberhasilan selalu bergantian menghinggapiku. Begitu banyak pengalaman tentang kegagalan dan keberhasilan. Semua itu merupakan pelajaran yang sangat berharga.

Apapun adanya diriku, aku dilahirkan untuk menyemangati orang lain. Bagi yang gagal, aku mendampinginya agar ia kuat dan tetap ikhlas. Begitu juga bagi yang sukses, aku selalu bersamanya agar ia tetap bersyukur dan tetap berusaha untuk sukses. Aku memang manusia pembangkit.

Menjadi manusia pembangkit memang tidak mudah. Banyak orang yang mensyaratkan berbagai kesempurnaan agar bisa menjadi pembangkit. Namun tidak bagiku. Menjaid pembangkit tidak membutuhkan syarat. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling membantu dan berbagi. Terlebih bagi manusia yang sedang dilanda masalah. Mereka tentu membutuhkan bantuan dari orang lain. Menjadi pembangkit artinya menjadi orang yang membangkitkan orang lain agar lebih baik lagi.

Membangkitkan orang lain boleh dengan tenaga, boleh pula dengan harta, atau boleh dengan apa saja. Yang penting alat dan tujuannya baik. Dengan tulisan pun dapat menjadi pembangkit, dengan syarat tulisan tersebut membangun dan membuat orang menjadi lebih baik.

Sesungguhnya, setiap kita adalah pembangkit, bukan sebaliknya. Tetapi banyak manusia yang tak menyadarinya. Banyak pula orang yang berpikir bahwa mereka adalah pembangkit, padahl sebaliknya, mereka adalah perusak. Menjadi pembangkit adalah menjadi manusia yang berguna bagi diri dan lingkungannya. “Manusia yang baik adalah manusia yang berguna untuk lingkungannya”. Wallahu ‘alam Bish Shawab.

Jalan Panjang Mandela


Siapa yang tak kenal dengan Nelson Mandela. Siapa pula tak kenal dengan Afrika Selatan, negeri yang diperjuangkan oleh Nelson Mandelai dengan segala suka dan dukanya. Perjalanan panjang Mandela untuk memerdekakan Afrika Selatan dari kungkungan politik apartheid. Sejarah kelam pembedaan manusia berdasarkan warna kulit, telah membuat Afrika Selatan menjadi negeri yang tertinggal. Dengan segala daya dan upayanya, Mandela memperjuangkan rakyat dan bangsanya agar setara sengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Perjuangan itu telah berhasil, dan rakyat Afrika Selatan dapat hidup merdeka tanpa perbedaan warna kulit.

Dalam buku yang diberi judul Mandela’s Way, penulisnya Richard Stengel menceritakan kehidupan, perjuangan, karakter, serta kepribadian Mandela, seorang presiden yang sangat sederhana. Membaca buku ini kita dibawa menelusuri kehidupan Mandela yang demikian beragam. Richard Stengel mewawancarai Mandela guna menguak tabir kehidupan Mandela.

Dalam sebuah penerbangan untuk menemui pendukung Zulu-nya, Mandela menggunakan sebuah pesawat berbaling-baling kecil. Didalam pesawat itu, Mandela ditemani oleh seorang pengawal dan dua orang pilot. Ditengah perjalanan, Mandela menunjuk ke luar jendela dan berkata dengan tenang kepada pengawalnya bahwa baling-baling tidak berfungsi. Mandela menuyuruh pengawalnya untuk memberitahukan keadaan tersebut. Para pilotpun telah menghubungi bandara untuk mempersiakan pendaratan darurat. Sementara itu, Mandela kembali duduk membaca Koran. Ketika pendaratan telah dilakukan, dan mereka selamat, Stengel pun bertanya kepada Mandela tentang penerbangan tersebut. Mandela membuka matanya lebar-lebar dan dengan suara dramatis berkata, “Ya ampun, aku ketakutan diatas sana!”(hal 29)

Orang yang berani bukanlah orang yang tanpa rasa takut. Orang berani adalah orang yang mampu mengatasi rasa takutnya dengan baik. Mandela memberikan pelajaran yang sangat berharga bagaimana cara memperjuangkan cita-cita dengan baik. Hukuman, penghinaan, ancaman, penjara dan berbagai tekanan baik fisik dan mental telah dilaluinya dengan baik. Ia tak mundur dengan semua itu. Ia sangat yakin dengan cita-cita perjuangannya. Mandela tidak menjadikan ketakutannya sebagai penghambat untuk meraih cita-cita tentang kemerdekaan dan persamaan hak dinegeri yang dicintainya. Demikian pula, keberaniannya yang dimilikinya tidak menjadikan berjuang dengan membabi buta. Ia berjuang dengan perencanaan dan tujuan yang jelas.

Banyak pemimpin dunia yang berjuang untuk negaranya. Mereka rela mempertaruhkan hidupnya demi cita-cita kemerdekaan. Tak jarang, mereka mempertaruhkan nyawanya demi negera yang dicintainya. Demikian pula, begitu banyak para pejuang tersebut, setelah berhasil malah berebut kekuasaan. Banyak diantaranya yang setelah berjuang dan berhasil serta diamanatkan sebagai pemimpin malah tak mau melepaskan kekuasaannya. Mereka berusaha untuk mempertahankan kekuasaannya. Mereka telah merasa berjuang dan harus menikmati hasilnya dengan menduduki kursi kepemimpinan untuk selamanya.

Tidak demikian dengan Mandela. Ia hanya menduduki jabatan presiden hanya untuk satu kali masa jabatan. Padahal, bila ia mau, untuk masa jabatan kedua akan mudah didapatkannya. Seluruh rakyat Afrika Selatan tentu masih membutuhkan dirinya untuk memimpin Negara yang masih dalam proses pembangunan tersebut. Nelson Mendela tidak mau melakukan hal itu. Ia rela melepaskan jabatannya dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memimpin Afrika Selatan.

Hal yang sangat menarik dari Mandela ini adalah ia lebih mengutamakan musuhnya dibandingkan temannya. Seringkali ia kehilangan informasi tentang teman-temannya, tapi ia selalu berusaha untuk mendapatkan informasi tentang musuhnya. Keyakinannya adalah teman-temanya selalu mendukungnya, sementara musuh-musuhnya harus diamati dengan hati-hati. Hal itu dilakukan? Mandela yakin bahwa kesetiaan dalam politik dan kehidupan bersifat sementara. Sementara itu, perjuangan untuk kemerdekaan menuntut kesetiaan (hal 169)

Mandela selalu berusaha untuk mendekati rival-rivalnya. Bahkan, ia tak segan-segan untuk duduk dekat dengan rivalnya. Hal ini dilakukan agar rivalnya itu tahu bahwa ia berusaha untuk berjuang dengan cara-cara yang damai dan terhormat.

Berjuang untuk melawan kekuasaan memang bukan hal yang mudah. Mandela yakin bahwa perjuangan dengan peperangan tidak selamanya menyelesaikan masalah. Untuk itu ia melakukannya dengan baik. Ia berusaha untuk mendekati musuhnya. Dengan pendekataan tersebut, ia berusaha untuk memberikan kesan bagi musuhnya, bahwa ia berjuang untuk kepentingan Afrika Selatan dan kepentingan manusia yang lebih luas.

Banyak para pemimpin yang tidak berusaha untuk mendekati musuhnya. Mereka beranggapan bahwa bial berdekatan dengan musuh maka kita akan dipermainkan. Kiat tentu ingat dengan perjuangan yang dilakukan oleh para pemimpin kita pada jaman sebelum kemerdekaan. Mereka rela berunding, dijebak, dijebloskan ke penjara, dan berbagai perlakuan musuh lainnya. Namun mereka tetap berusaha untuk melakukan pendekatan agar cita-cita kemerdekaan dapat tercapai.

Sekarang ini banyak pemimpin yang bermusuhan sampai mati. Mereka mengekal permusuhan tersebut tanpa usaha untuk mengkompromikannya. Mereka menganggap bahwa berbeda pendapat sama dengan permusuhan. Tak jarang “perkelahian” tersebut justru membawa keburukan bagi kedua belah pihak. Mandela tidak melakukan hal itu. Terbukti, setelah Afrika Selatan merdeka, tak ada balas dendam kepada mereka yang berkulit putih. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Padahal, bila kita kilas balik terhadap perlakuan orang kulit putih tentu sangat menyakitkan bagi mereka yang berkulit hitam. Mandela berhasil menyatukan kedua ras tersebut dengan damai dan aman, serta setara. Sebuah perjuangan yang tidak mudah.

Dalam pengantar buku ini, Mandela menyatakan bahwa setiap perjuangan yang kita lakukan terdapat juga perjuangan orang lain. Artinya, perjuangan yang kita lakukan tidak semata-mata sebagai hasil perjuangan kita sendiri. Dalam perjuangan kita, terdapat perjuangan orang lain. Karena itulah, keberhasilan yang kita capai harus dapat dinikmati juga oleh orang lain.

Kalau akhirnya Mandela mendapat hadiah nobel perdamaian, semua itu tentu merupakan hasil perjuanagn dari seluruh rakyat Afrika Selatan. Mandela hanya perwakilan karena ia yang memimpin perjuangan tersebut. Disinilah letak pentingnya kebersamaan. Tanpa kebersamaan sulit mewujudkan kemerdekaan.

Apa yang dilakukan oleh Mandela adalah perjuangan yang sangat spesifik untuk jaman sekarang ini. di dunia Barat, masalah apartheid telah berakhir sudah lama. Tapi bagi Afrika Selatan, hal itu masih terjadi untuk beberapa tahun yang lalu. Hal ini tentu menarik karena sekarang ini manusia sudah hidup dalam kesejajaran yang nyata. Masalah kesenjangan yanga ada selama ini bukan perbedaan ras, tapi kemiskinan.

Manusia banyak yang terpinggirkan hanya karena miskin. Akses untuk layanan kesehatan, pendidikan dan sosial semakin sulit. Perbedaan kesejahteraan ini membuat manusia tersingkir dan menderita. Perjuangan Mandela adalah memerdekakan rakyatnya dari perbedaan warna kulit, setelah itu memerdekakan rakyatnya dari keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, dan lain-lain.

Buku ini baik dibaca oleh mereka yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin, serta mereka yang sedang memimpin saat ini. banyak pelajaran yang bisa dipetik. Bagi seorang calon pemimpin, atau yang sedang memimpin, bisa belajar dari mana saja. Dan lebih baik lagi bila mampu belajar dari keberhasilan dan kegagalan para pemimpin terdahulu. Walaupun buku ini merupakan hasil wawancara dan sering terselip cerita tentang penulisnya, tapi tidak mengurangi nilai dari isi bukunya.

Judul Buku : Mandela’s Way. Lima belas pelajaran tentang hidup, cinta dan keberanian.

Penulis : Richard Stengel diterjemahkan oleh Marina Sofyan

Penerbit : Esensi, divisi penerbit Erlangga 2010

Tebal buku : viii + 265 halaman